Showing posts with label Finance. Show all posts
Showing posts with label Finance. Show all posts

Investasi Emas Kian Menarik


Ke depan, investasi logam mulia berupa emas semakin menarik di tengah krisis ekonomi global yang belum akan segera pulih. Harga emas yang terus meningkat memberikan hasil kembali yang lumayan bagi investor.

Presiden Direktur PT Aneka Tambang (Persero) Alwin Syah Loebis, ditemui Kompas di Jakarta, Kamis (11/8/2011), mengemukakan, permintaan produk emas yang diproduksi PT Aneka Tambang terus meningkat belakangan ini. "Sebab, investasi pada emas memberikan hasil kembali yang besar sehingga harganya terus membaik," ujarnya.

Harga emas di Hongkong pada Kamis 1.782,50 dollar AS-1.783,50 dollar AS atau sekitar Rp 15,2 juta per troy ounce (31,1 gram), sekitar Rp 488.746 per gram. Harga ini sudah turun dari rekor tertinggi, 1.800 dollar AS per troy ounce. Hari sebelumnya, harga emas 1.761,50 dollar AS-1.762,50 dollar AS per troy ounce.

Menurut Alwin, emas terus diburu investor setelah dollar AS dan harga saham terus berfluktuasi tajam. Hal ini membuat investor beralih ke emas. "Menyimpan emas juga relatif lebih aman, apalagi harganya terus membaik," ujar Alwin

Sementara itu, Presiden Direktur Axa Mandiri Albertus Wiroyo dalam pemaparan pertumbuhan Axa Mandiri di Jakarta, Kamis, menegaskan, tren kenaikan harga emas di pasar internasional yang terus berlanjut tidak membuat PT Axa Mandiri berinvestasi ke emas.

Iwan mengatakan, industri asuransi memiliki karakteristik jangka panjang. Di samping itu, ada masa jatuh tempo, termasuk pembayaran klaim nasabah, yang waktunya sulit diduga. Karena karakteristik ini, Axa Mandiri menjaga dengan investasi yang hasil jangka panjangnya baik, tetapi juga memberikan pendapatan secara periodik, misalnya deposito dan obligasi. (PPG/OSA)

Utang AS Hampir Mustahil Terbayar

Utang mencapai 14,3 triliun dollar AS, bagaimana membayarnya itu? Mungkin Presiden Barack Obama pun tak bisa menjawabnya.



Bayangkan, utang itu sudah setara dengan 100 persen dari produksi domestik bruto (PDB) AS selama setahun. PDB setara dengan pendapatan. Ini artinya, jika AS ingin melunasi utang itu dalam setahun, maka AS tidak makan dan tidak minum, alias mati suri saja selama setahun. Ini baru bisa bikin utang lunas.

Namun, opsi ini tidak mungkin terjadi. Lalu bisakah utang itu dibayar dari hasil pertumbuhan ekonomi? Ini pun tidak mungkin.

Bayangkan, pertumbuhan ekonomi AS itu maksimal hanya 1 persen setahun sekarang ini, bahkan dalam setahun terakhir diperkirakan hanya tumbuh 0,4 persen.

Ambil saja contoh, pertumbuhan ekonomi AS setahun satu persen. Ini artinya, ada pertumbuhan pendapatan sebesar 143 miliar dollar AS. Jika hanya sebesar ini pertumbuhan pendapatan AS, dan andaikan dipakai membayar utang setiap tahun, maka diperlukan 100 tahun agar utang AS terbayar. Ini dengan asumsi utang AS tidak bertambah tetapi tetap 14,3 triliun dollar AS. Ini pun tidak mungkin terjadi.

Bayangkan, televisi CNN memperkirakan utang AS segera melejit ke level 20 triliun karena AS memerlukan lagi banyak biaya untuk bayar bunga utang, membayari jaminan sosial warga lansia, dan lain-lain. Harusnya, utang bisa dipayari dari pajak. Namun ini amat ditentang oleh Partai Republik yang anti pajak.

"Sikap menentang kenaikan pajak," yang membuat Republik meraih suara dalam pemilu pertengahan tahun lalu," kata konsultan Partai Republik, Jim Dyke.

Mencari Investasi Aman Saat Krisis


Obligasi terbitan pemerintah tidak memberikan hasil nyata, harga emas amat sangat mahal, dan pasar saham terus melemah

Perekonomian global ternyata lebih buruk dari perkiraan semula. Obligasi terbitan pemerintah tidak memberikan hasil nyata, harga emas amat sangat mahal, dan pasar saham terus melemah.

Nah, apa yang harus dilakukan investor? Meminjam frasa dari Watergate: follow the money: temukan siapa yang memegang uang tunai lalu pergilah ke sana. Tips ini, untuk banyak investor dapat berarti obligasi korporasi berperingkat tinggi dan saham pada perusahaan solid.

Bagi investor lain, menanamkan dana di pasar berkembang dengan imbal hasil besar atau tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Itu untuk jangka pendek. Untuk jangka yang lebih panjang, para investor masih menyukai saham yang kinerjanya melampaui obligasi.

Banyak juga investor yang berupaya menyatu dengan badai dengan berinvestasi pada obligasi korporasi yang bagus dan saham, jika memiliki arus kas bagus. "Aset pada sektor swasta akan berkinerja lebih baik dibandingkan dengan aset pada sektor publik. Neraca perusahaan jauh lebih jelas dibandingkan dengan neraca negara," ujar Klaus Wiener Kepala Riset pada Generali Investments di Cologne.

Banyak investor yang menyerbu obligasi perusahaan dengan peringkat baik yang memberikan peringkat lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi di negara mereka. Jumlah ini tampaknya akan bertambah jika peringkat AS benar-benar diturunkan. Hal itu mencerminkan krisis surat utang pemerintah di AS dan Eropa telah mengubah kategori risiko di benak para investor.

Banyak obligasi berimbal hasil tinggi dari negara berkembang sekarang dipandang sebagai investasi yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan obligasi di zona euro. Bahkan beberapa saham dinilai lebih aman dibandingkan dengan obligasi pemerintah.

Wiener mengatakan, perusahaan terkait sektor energi dan asuransi terlihat merupakan sektor yang memiliki arus kas stabil.Thomson Reuters StarMine memperlihatkan data asuransi gobal dengan rasio utang jangka panjang dengan ekuitas sebesar 0,41. Angka itu menunjukan lebih tinggi dibandingkan dengan rasio pada sektor finansial yang sebesar 1,52.

Sanjay Joshi, manajer portofolio pada London & Capital Wealth Management menyatakan, menyukai instrument investasi seperti obligasi korporasi dengan tingkat investasi bagus sebagai pengaman jangka pendek. Dia mencontohkan, seperti perusahaan Johnson and Johnson, Wal-Mart and Tesco.

Aliran dana ke pasar berkembang yang sering dipandang sebelah mata sebagai investasi, kini menjadi tempat persinggahan untuk mencari keamanan, walaupun terkadang bergejolak juga. Keamanan fiskal di negara berkembang sudah jauh membaik saat ini dan telah menghasilkan buahnya.

Dua instrument aman, obligasi pemerintah yang berkualitas tinggi dan uang tunai akhirnya juga tidak dapat memenuhi keinginan investor untuk melindungi mereka dari penurunan ekonomi global dan berbagai krisis. Tingkat suku bunga rendah obligasi pemerintah dari negara maju, dikombinasikan dengan beberapa kasus dengan program pelonggaran kuantitatif dengan mencetak uang, membuat imbal hasil jika memenang uang tunai tidak dapat diandalkan.

Surat berharga bertenor enam bulan atau lebih rendah dalam denominasi dollar AS, pound dan yen hanya memberikan imbal hasil kurang dari 1 persen. Euro bahkan lebih rendah lagi. Sementara untuk obligasi, kenaikan inflasi dan permintaan instrumen investasi aman selama berbagai krisis membuat obligasi pemerintah menghasilkan imbal hasil netto yang negatif. Maksudnya, pembelian obligasi saat ini tidak dapat menutupi kenaikan biaya hidup.

Sebagai contoh, obligasi Jerman yang merupakan obligasi paling top di Eropa, memberikan imbal hasil sebesar 2,4 persen, sama dengan tingkat inflasi. Sehingga imbal hasil riilnya nol. Ini merupakan pertama kali terjadi setidaknya sejak tahun 1957. Imbal hasil obligasi AS dan Inggris bahkan sudah negatif. Hanya Jepang yang menawarkan imbal hasil positif karena tingkat inflasi Jepang nyaris tidak ada.

Walaupun demikian, investor masih mencari obligasi pemerintah. Sedikit merugi masih bisa diterima, setidaknya untuk saat ini. Emas saat ini juga menjadi incaran investor. Demikian pula Swiss franc yang mencapai rekor terhadap dollar AS dan euro. Kedua aset itu semakin popular dijadikan pengaman di saat krisis.

AS & Eropa Krisis, Asing Bakal Serbu Surat Utang RI


Jakarta - Pemerintah optimistis aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara akan terus meningkat di paruh kedua tahun ini seiring dengan pesimisme investor terhadap lambatnya penanganan ekonomi Amerika Serikat dan krisis utang di kawasan Eropa.

"Kemungkinan (jumlah kepemilikan SBN oleh asing) meningkat lebih besar lagi karena situasi global tidak memungkinkan investor global untuk investasi di Eropa dan Amerika Serikat," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto saat ditemui dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (26/7/2011).

Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang melaporkan kepemilikan SBN yang dapat diperdagangkan dari total Rp 649,95 triliun. Posisinya terus bergerak naik, di mana per 22 Juli jumlahnya menjadi Rp 243,93 triliun atau 34,83% dari total Rp 700,18 triliun.

Rahmat menyatakan perlambatan ekonomi di AS masih akan berlangsung hingga akhir tahun, demikian pula dengan krisis utang di sejumlah negara Eropa. Hal itu membuat tingkat suku bunga perbankan di dua kawasan tersebut ditekan rendah sehingga kurang menarik di mata investor.

"Dalam waktu jangka menengah, belum tentu mereka bisa menyelesaikan itu (krisis) karena itu sudah sampai pada fundamental dan struktural (ekonominya). Yunani, misalnya, meski sudah ada penyelamatan, orang masih mempertanyakan bagaimana implementasi berbagai kebijakannya," jelasnya.

Rahmat menilai permasalahan utang di Eropa, tidak hanya terjadi di Yunani, tetapi sudah menjalar ke Italia, Portugal, dan Spanyol. Lembaga pemeringkat internasional seperti Moodys telah menurunkan peringkat kredit Yunani, sehingga potensi gagal bayar sangat besar di kawasan Eropa.

"Kemungkinan mereka untuk default besar sekali. Akan banyak investor yang gulung tikar. Dari pada rugi mending ke Indonesia. Jadi capital inflows masih akan berlangsung cukup besar (di paruh kedua)," ujarnya.

Namun, Rahmat menegaskan pemerintah tetap mengantisipasi kemungkinan terjadinya pembalikan modal secara tiba-tiba (sudden reversal). Ada empat kebijakan antisipasi atau management protocol crisis yang disiapkan oleh pemerintah, yang dikenal dengan Bond Stabilization Framework.Pertama, melakukan operasi pasar untuk membeli kembali (buyback) obligasi negara menggunakan dana yang sudah dialokasikan dalam APBN. Kedua, pemerintah juga dimungkinkan untuk menggunakan dana menganggur (idle cash) yang dikelola oleh Kementerian Keuangan selaku bendahara umum negara.

"Saldo idle cash di Kemenkeu bergerak terus. Saya tidak pada kapasitas untuk mengungkapkan jumlahnya. Idle cash itu kan sifatnya sementara, kalau dibutuhkan akan dipakai untuk macam-macam. Jdi penggunaannya tergantung kebutuhan," jelasnya.

Ketiga, lanjut Rahmat, pemerintah bersama-sama dengan Kementerian BUMN telah menyiapkan bond stabilization fund. Yakni mengajak perusahaan-perusahaan milik negara menganggarkan dana untuk membantu buyback ketika krisis terjadi.

"Keempat atau yang terakhir, kami bisa menggunakan SAL (saldo anggaran lebih) untuk melakukan operasi pasar (buyback). Dalam APBNP 2011 diperbolehkan itu dengan seijin DPR dan harus dilaporkan dalam LKPP (Laporan Keuangan Pemerintah Pusat)," jelasnya.

Menurut Rahmat, penggunaan SAL hanya bisa dilakukan pemerintah setelah kebutuhan anggaran di awal tahun serta pendanaan kegiatan jangka pendek diamankan.

"Intinya, DPR wajib menyetujui paling lambat 24 jam setelah pemerintah mengajukan permohonan penggunaan SAL," pungkasnya.

RI Matangkan Rencana Perdagangan Bebas dengan Eropa


Jakarta - Indonesia tak mau mengulangi kesalahan saat melakukan perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China. Saat ini pemerintah tengah melakukan persiapan matang sebelum menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa.

Dirjen Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Agus Tjahajana mengungkapkan, Indonesia terus melakukan pembicaraan dan konsultasi interen untuk terus menguatkan dan menyiapkan kekuatan dalam negeri.

"Pihak Uni Eropa belum diundang karena ini rumah tangga kita. kalau mengundang orang asing kita tidak bebas bicara," katanya dalam pembukaan Forum Konsultasi Publik Vision Group Indonesia-EU di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta, Senin (25/7/2011).

Menurut Agus, adanya forum-forum publik seperti ini akan banyak memberikan masukan yang dapat dijadikan pertimbangan dan pembelajaran agar Indonesia bisa mempersiapkan diri sebelum akhirnya perjanjian dengan Uni-Eropa ditandatangani. Selain itu, Indonesia juga tidak ingin mengulangi kesalahan yang dilakukan dalam perjanjian kerja sama ASEAN dengan China.

"Kita belajar dari AC-FTA dan perjanjian lain. Kita tidak mau dikomplain nantinya," tuturnya.

Perjanjian antara Indonesia dan Uni-Eropa, kata Agus, diperkirakan masih sekitar 10 tahun mendatang. Namun, kurun waktu 10 tahun tersebut, perjanjian Indonesia dengan Uni-Eropa bisa jadi sudah dilaksanakan secara keseluruhan.

"Kerjasama itu masih sekitar 10 tahun mendatang sampai dengan fully implemented," imbuhnya.

BTN Malah Perbesar Kredit Non-KPR?


Dirut Bank Tabungan Negara (BTN) Iqbal Latanro mengatakan, pertumbuhan kredit pada semester ini dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit nonperumahan sehingga komposisi KPR dan non KPR menjadi 10,5 persen dan 89,5 persen. BTN mencatat, pertumbuhan kredit sebesar 21,46 persen dari Rp 46,51 triliun pada Juni 2010 menjadi Rp 56,49 triliun pada Juni 2011.

"Seperti pernah disampaikan sebelumnya, kami akan memperbesar kredit non KPR karena melihat margin yang lebih baik, jangka waktu lebih pendek dan untuk penyebaran risiko," kata Iqbal di Jakarta, Rabu (22/7/2011).

Sementara itu, untuk aset BTN tercatat sebesar Rp73,8 triliun, atau tumbuh 20,92 persen dari periode yang sama tahun 2010 sebesar Rp61,06 triliun. Sedangkan NPL (Net) Bank BTN per 30 Juni 2011 tercatat 3,65 persen.

Tips Bebas dari Cengkeraman Utang


Masih ingat 10 pernyataan di artikel saya sebelumnya (Utang, Bermanfaat atau mencelakakan?”, Kompas.com, 31 Mei 2011)?, yang jika minimal ada 4 saja yang cocok atau sesuai dengan perilaku Anda saat ini, maka Anda sudah berada dalam masalah keuangan?

Apa sebetulnya masalah keuangan yang dimaksud? Bisa jadi kita sedang tidak sadar bahwa utang semakin menumpuk, karena kehilangan daya beli membuat kita harus melakukan beberapa perilaku dari 10 pernyataan itu.

Atau bahkan Anda sudah masuk lingkaran “setan” yang namanya terjerat cengkeraman utang? Tentunya tekanan psikologis pun sangat tinggi dirasakan. Tidak jarang kita mendapati berita orang berfikir pendek sampai bunuh diri gara-gara terjerat cengkeraman utang. Ngeri juga hantu blau yang namanya Cengkeraman Utang ini ya?.

Para pembaca yang budiman, terjerat cengkeraman utang bukanlah akhir dari segalanya. Selama kita punya kemauan untuk terbebas dari cengkeraman utang, yakinlah Sang Maha Pencipta akan memberi petunjuk dan kemudahan.

1. Merubah Gaya Hidup Finansial
Kendala terbesar dalam rangka tekad kita terbebas dari cengkeraman utang adalah merubah gaya hidup finansial kita. Gaya hidup finansial adalah dinamisasi hubungan antara pendapatan (income) dan bagaimana kita memanfaatkannya (spending). Perlu disadari bahwa gaya hidup finansial kita selama ini telah membawa kita terjebak dalam cengkeraman utang. Jadi milikilah tekad untuk mengubah gaya hidup. Mulailah dengan mengenali betul, apakah pola belanja kita selama ini lebih kepada memenuhi keinginan kita?

Prihatinlah dulu untuk lebih memenuhi kebutuhan kita ketimbang keinginan kita. Paling tidak sampai kita terbebas dari cengkeraman utang ini kelak. Buatlah rencana perubahan gaya hidup finansial yang fokus pada efisiensi anggaran bulanan. Saya sarankan untuk dibuat secara tertulis.

2. Mengenali Struktur utang saat ini
Untuk mendapatkan solusi masalah secara optimal, syarat utamanya adalah kita harus tahu persis masalah yang dihadapi. Berapa jumlah utang yang masih tertunggak? Berapa beban bulanan yang harus tersedia untuk menyelesaikan utang-utang tersebut. Susunlah secara tertulis dan buat daftar prioritas dari jumlah utang yang terkecil.

3. Identifikasi kemampuan saat ini
Dari hasil tekad merubah gaya hidup finansial, kita tahu berapa kemampuan kita menyisihkan pendapatan kita untuk dialokasikan pada rencana pelunasan beban utang kita. Sehingga kita dapat menghitung berapa jumlah kekurangan dana untuk memenuhi kebutuhan minimum beban bulanannya. Bila sampai langkah ini, ternyata hasilnya kita sudah mampu membayar kebutuhan minimum beban hutang kita. Segera lakukan tindakan sesuai rencana dengan disiplin.Perlu diingat, bahwa menyisihkan pendapatan adalah kegiatan yang harus dilakukan lebih dulu sebelum kita memanfaatkannya lebih lanjut. Bila masih defisit, lanjutkan langkah berikutnya.

4. Negosiasi ulang dengan Pemberi Utang
Selalu ada jalan untuk meringankan beban utang kita melalui pendekatan dengan pihak pemberi pinjaman. Bicarakanlah kesulitan yang kita hadapi dan negosiasikan skema terbaik yang bisa diberikan pihak pemberi utang sebagai solusi, baik dari sisi penjadwalan ulang waktu pelunasan hingga pertimbangan kembali pembebanan bunga. Bila hasil negosiasi ini belum dapat memenuhi kebutuhan rencana pelunasan utang, kita bisa mencoba langkah selanjutnya.

5. Memanfaatkan aset yang ada
Jika kita masih memiliki aset, jalan termudah dalam memanfaatkan aset untuk mengurangi atau melunasi beban utang kita adalah dengan menjualnya. Namun sebagai konsekuensinya, kita kehilangan manfaat dari aset tersebut. Ada baiknya kita mempertimbangkan untuk memanfaatkan aset tersebut sebagai jaminan/agunan untuk utang baru. Sebagai catatan, dana yang bisa dihasilkan harus bisa melunasi seluruh utang kita atau paling tidak sebagian besar (minimal 80 persen dari total beban utang).

Carilah skema utang baru yang memberikan peluang waktu pengembalian yang cukup panjang dan tingkat suku bunga serendah-rendahya untuk mendapatkan jumlah pinjaman yang cukup besar, dengan beban cicilan yang ringan. Langkah ini biasa disebut pengambil alihan utang (Debt Take Over). Bila tidak bisa secara langsung, saat ini ada pihak ketiga yang bisa membantu dan bertindak atas nama kita. Pihak ketiga ini yang akan berhadapan dengan bank (atau institusi finansial lainnya). Tentu saja ada fee yang harus dibayarkan atas jasa pengurusan ini.

6. Mencari pinjaman “LUNAK”
Mengingat masalah finansial cukup sensitif dan bersifat pribadi, langkah ini bisa dijadikan alternative terakhir. Pinjaman “LUNAK” yang dimaksud adalah dengan meminjam sejumlah uang kepada keluarga atau kerabat terdekat kita. Ajukan jangka waktu yang cukup panjang dan cicilan tanpa bunga. Bicara apa adanya kesulitan yang dihadapi. Berkomitmen penuh untuk menepati pelunasan yang kita janjikan. Mohon diingat, tali silaturahmi jauh lebih penting daripada uang.

7. Mempertahankan dan Mengembangkan Gaya Hidup Finansial yang Baru
Kita jangan cepat puas pada saat sasaran kita untuk bebas dari cengkeraman utang tercapai. (kalau sudah mampu membayar cicilan utang tepat waktu berarti kita sudah bebas dari cengkeraman bukan?). Lanjutkan gaya hidup yang sudah lebih baik ini untuk mencapai sasaran-sasaran finansial kita berikutnya. Tingkatkanlah nilai yang bisa disisihkan sesuai kemampuan. Kita akan terkagum-kagum akan kekuatan menyisihkan pendapatan diawal ini. Boleh jadi di suatu saat kelak, kita terkaget-kaget mendapati kemampuan finansial yang kita miliki.

Masih ada potensi untuk mengembangkan kemampuan finansial yang kita miliki, yakni dengan menggali lagi kemampuan kita untuk mendapatkan pendapatan lebih (pendapatan tambahan). Teruslah menggali potensi ini sesuai minat yang kita miliki. Kita bukan hanya akan terbebas dari cengkeraman utang, bahkan akan mampu mengejar cita-cita finansial kita. Semoga bermanfaat. (Budi Cahyadi, MM, CFP®/Financial Planner, TGRM Financial Planning Services)

sumber: kompas.com

Harga Mobil Bekas Naik


Jakarta - Harga mobil bekas di WTC Mangga Dua saat ini mulai naik sekitar Rp8 jutaan dan model multi purpose vehicle (MPV) masih paling tinggi peminatnya. "Tiga merek utama yang mengalami kenaikan harga, yakni Toyota, Daihatsu dan Honda," ujar Herjanto Kosasih, Manajer Pemasaran Senior WTC Mangga dua di Jakarta Utara, hari ini (18/7).

Untuk mobil seharga Rp100-150 juta, lanjut Herjanto, kenaikannnya sampai Rp5jutaan. Sedangkan yang Rp200 jutaan, naik Rp8 jutaan. Kalau di atas itu juga ada, tapi tidak terpantau. Dan harga mobkas melonjak sudah terjadi sejak Mei lalu dan bertahan sampai akhir Juli ini.

"Bulan Puasa biasanya harga kembali normal, soalnya pembeli datang dari end user (konsumen pemakai). Jadi pedagang mengembalikan harga ke normal. Kalau dua bulan lalu sasarannya pedagang daerah," beber Herjanto.

Sementara itu, pada Juni lalu, penjualan mencapai 2.800 unit dan tercatat sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Dengan angka ini, maka total penjualan semester I/2011 sudah mencapai 15.000 unit naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu 8.000 unit.
Tags:

Biaya Hidup di Jakarta Lebih Mahal Dibanding Kuala Lumpur


Jakarta - Bagi para ekspatriat biaya hidup di Jakarta ternyata lebih mahal ketimbang biaya hidup beberapa negara tetangga seperti Bangkok (Thailand) dan Kuala Lumpur (Malaysia) di tahun ini.

Demikian hasil kajian dari Mercer, sebuah firma konsultasi sumber daya manusia dan jasa keuangan yang berpusat di kota New York seperti dikutip dari situsnya, Sabtu (16/7/2011).

Pada kajian tersebut, Jakarta menempati posisi 69 kota termahal untuk para ekspatriat. Sementara Bangkok dan Kuala Lumpur masing-masing menempati posisi 88 dan 104.

Peneliti Senior dari Mercer Nathalie Constantin mengatakan hal-hal yang mempengaruhi besaran biaya hidup bagi para ekspatriat adalah fluktuasi nilai tukar, inflasi, ketidakstabilan politik, dan bencana alam.

"Kebanyakan kota-kota di Asia peringkatnya menanjak karena ketersediaan akomodasi yang terbatas bagi para ekspatriat, sementara permintaannya sangat tinggi," ujar Nathalie.

Dalam kajian tersebut, kota termahal di dunia bagi para ekspatriat adalah Luanda di Angola, lalu diikuti oleh Tokyo di Jepang. Kemudian Moskow menempati posisi keempat, dan Jenewa di Swiss menempati posisi kelima, dan diikuti Osaka di Jepang pada peringkat keenam. Sementara Singapura menempati posisi kedelapan.

sumber: detik.com

Jusuf Kalla : Banyak Kontraktor Terancam Bangkrut


MAKASSAR, KOMPAS.com — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bakal banyak kontraktor yang menghadapi kenyataan pahit, yakni ancaman kebangkrutan. Hal itu diutarakan di hadapan peserta Musyawarah Kerja Nasional Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) di Makassar, Rabu (13/7/2011).

Mukernas itu dibuka Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional Malkan Amin.

Menurut Jusuf Kalla, ancaman kebangkrutan bagi kontraktor itu disebabkan berbagai faktor. Anggaran pemerintah yang tersedia untuk membangun infrastruktur, yang merupakan bagian pekerjaan kontraktor, makin terbatas.

Hal itu disebabkan semakin besarnya alokasi anggaran untuk subsidi yang sebenarnya bisa dikurangi pemerintah, misalnya, dengan mengurangi subsidi bahan bakar minyak yang banyak salah sasaran.

"Jadi yang banyak terancam kebangkrutan itu adalah kontraktor yang mengandalkan proyek pemerintah," katanya.

Oleh karena itu, kata Jusuf Kalla, yang juga pernah memimpin perusahaan kontraktor, harus kreatif mencari bisnis di luar proyek yang dibiayai APBN.